Prof Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi Departemen Gizi Masyarakat IPB sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia (Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia) bersama Prof Muladno, Guru Besar Ilmu Produksi Ternak Departemen Teknologi Produksi Ternak IPB yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) berbicara mengenai Indonesia Swasembada Daging Sapi di acara live talk show “Indonesia Morning Show”. Prof Muladno optimis bahwa visi Swasembada Daging Sapi baik untuk diwujudkan demi Indonesia yang lebih baik. Bagaimana mewujudkannya? Tentu pabrik-pabrik sapinya terlebih dahulu yang perlu untuk ditambah baik dari sisi kualitas dan kuantitas. Maksud pabrik-pabrik sapi ini adalah indukan-indukan sapi, ujar Prof Muladno. Prof Hardinsyah sangat sepakat dengan visi mulia ini. Prof Hardinsyah mengingatkan bahwa demi keberhasilan yang utuh, pola pikir dan kinerja yang holistik dari hulu ke hilir yang diterapkan secara terstruktur dan sistematis dengan memperhatikan budaya setempat sangat penting untuk direalisasikan. Prof Hardinsyah juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya bercita-cita mulia swasembada daging sapi, tetapi juga swasembada untuk komoditi penting lainnya seperti beras, gula, kedelai, dan jagung. Oleh karena itu manajemen pemeliharaan mulai dari induk, pakan, hingga output daging perlu diatur secara holistik bersamaan dengan usaha-usaha memajukan pertanian Indonesia lainnya, terutama dalam manajemen pemanfaatan lahan, sumber pakan, air, sumber daya manusia dan juga budaya Indonesia yang spesifik di setiap daerah. Untuk mewujudkan Indonesia Swasembada Daging Sapi, Prof Muladno melahirkan programKemitraan Mulya 52”. Yaitu program kemitraan bersama antara pemerintah sebagai penyedia indukan, pemodal sebagai penyedia dana bulanan dan peternak sebagai pemelihara sapi. Program ini dilakukan dengan cara berinvestasi selama 52 bulan untuk memperoleh 5 kentungan dan 2 kemuliaan. Berita selengkapnya lihat https://www.youtube.com/watch?v=DZCGGAYXbsI. Bangkitlah Indonesia, harapan itu masih ada (Eny Palupi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • *