Nutrition Fair 2015

Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi (Himagizi) Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (Fema IPB) bekerjasama dengan Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (Pergizi Pangan Indonesia) menyelenggarakan Nutrition Fair 2015, Minggu (22/11). Kegiatan yang mengambil tempat di Grha Widya Wisuda (GWW) kampus IPB Darmaga Bogor ini, bertema “Gizi Seimbang dan Gaya Hidup Sehat Menuju Indonesia Sehat Berkualitas”.
Ketua Pelaksana Nutrition Fair 2015, I Putu Agus Mahendra Yasa menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan mahasiswa akan pentingnya memperhatikan konsumsi makanan dalam kaitannya dengan pemenuhan gizi harian yang beragam dan seimbang, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Sementara itu, Ketua Departemen Gizi Masyarakat Fema IPB, Dr. Rimbawan menyampaikan, “Perlu dibangun kesadaran tentang pentingnya penerapan pedoman gizi seimbang dan perilaku hidup sehat, agar terwujud masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas”.
Di tempat yang sama, Dekan Fema IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya mengatakan, “Saat ini gizi menjadi prioritas utama semua orang. Gizi tidak hanya diperhatikan oleh kaum menengah ke bawah, tetapi gizi juga diperhatikan oleh kaum menengah ke atas. Kalau menengah ke bawah agendanya bagaimana cara menggemukkan, sedangkan untuk menengah ke atas agendanya bagaimana menguruskan. Saat ini masalah gizi sudah seharusnya ditanggulangi, mengingat dampaknya yang lebih besar dan meluas apabila tidak dilakukan penanggulangan. Dengan demikian, perlu dilakukan berbagai hal untuk menambah pengetahuan dan pemahaman bagi masyarakat mengenai pentingnya penerapan gizi seimbang dan berperilaku hidup sehat”.
Acara dirangkai dengan seminar nasional yang menghadirkan pembicara Direktur Jenderal Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Ir. Doddy Izwardy, MA  dan Guru Besar Fema IPB Prof.Dr Hardinsyah. (Awl)

Guru Besar IPB: Gizi Kurang Berakibat Buruk Hingga Tiga Generasi

Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (Fema IPB) Prof.Dr. Siti Madanijah, menyampaikan orasi ilmiah di Kampus IPB Darmaga Sabtu (24/10), dengan judul orasi “Pendidikan Gizi: Sains dan Aplikasinya dalam Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Menuju Generasi Emas”. Menurutnya, masalah gizi pada masa janin dan anak pada jangka pendek berakibat pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak termasuk tumbuh kembang otak dan berbagai organ, gangguan pemrogaman metabolisme serta kerja sel dan organ dalam tubuh. Jangka panjangnya adalah penurunan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, gangguan kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, serta berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular seperti stroke, jantung koroner, dan diabetes serta disabilitas pada usia tua. Dengan demikian, berakibat pada rendahnya tingkat kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan produktivitasnya.

“Hambatan peningkatan gizi adalah karena pengetahuan yang tidak memadai dan praktik yang tidak tepat. Sebagian besar orang tidak menyadari pentingnya gizi selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Misal janin jangan besar di dalam kandungan nanti susah lahirnya, nanti saja besarin saat sudah lahir. Pendapat ini salah,” ujarnya.

Beberapa permasalahan selama periode seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) diidentifikasi meliputi pernikahan di usia muda, masih tingginya prevalensi anemia remaja putri dan ibu hamil, kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), berat bayi lahir rendah dan panjang badan lahir yang pendek, serta masih tingginya prevalensi stunting (pendek) pada bayi dan anak balita.

“Berbagai masalah ini akan menurunkan kualitas suatu generasi bahkan berlanjut pada generasi berikutnya bila tidak segera diatasi. Bahkan bisa sampai tiga generasi,” imbuhnya.

Prof Madanijah bertutur, pendidikan gizi masyarakat atau dalam bahasa operasionalnya disebut Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) gizi, bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang sama tentang pengertian gizi, masalah gizi, faktor penyebab masalah gizi, dan praktik konsumsi pangan yang baik dan benar untuk perbaikan gizi.

Scaling Up Nutrition (SUN) Movement merupakan suatu kegiatan yang dibentuk untuk perluasan dan percepatan perbaikan gizi di dunia dengan fokus pada 1000 HPK sejak dalam kandungan hingga dua tahun. Di Indonesia, gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Gerakan ini didukung Peraturan Presiden No. 42/2013 mengenai Gerakan Percepatan Perbaikan Gizi. Programnya meliputi program spesifik dan program sensitif.

Program spesifik dilakukan langsung terhadap kelompok sasaran 1000 HPK oleh sektor kesehatan yaitu ibu hamil, ibu menyusui, bayi 0-6 bulan, serta bayi dan anak usia 7-23 bulan. Sementara program sensitif merupakan kegiatan tidak langsung yang dilakukan oleh selain sektor kesehatan dengan sasaran masyarakat umum. Misalnya penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, KomunikasiKIE gizi, pendidikan dan KIE kesehatan, serta kesetaraan gender.

“Sangatlah penting untuk menerapkan strategi yang efektif untuk menjangkau mereka di seluruh negeri dengan intervensi gizi. Salah satunya perlu dilakukan dalam bentuk empowering community agar dapat bersifat sustain,” tandasnya.(zul)

Sumber : news.ipb.ac.id